Words to Remember

Tuesday, December 17, 2013

Bila mereka menyebrangi sungai ini dengan perahu, saya sedang menyebranginya dengan berenang. Wajar bila mereka sampai duluan. Tapi saya masih berenang kok, dan pasti akan sampai di seberang sebentar lagi. Yang jelas, saya tidak akan berhenti.

~by Me, June 26th 2011

Jalan menuju kebahagiaan itu tidak ditaburi bunga mawar yang harum, melainkan penuh duri dan pahit. Kadang-kadang Tuhan sembunyikan matahari. Dia datangkan petir dan kilat. Kita menangis dan bertanya-tanya kemana perginya matahari. Rupanya Tuhan hendak memberi kita pelangi.

Personal Canvas

Wednesday, November 6, 2013

Visiting www.good.co,
dan saya kaget sama hasilnya.
Akurat, karna saya emang kayak gitu, hahahha.
Cool!



Garfield in a real life

Friday, September 27, 2013

I loooooooove cats!
Beberapa hari lalu ke daerah Tutong, ke rumahnya bang Acai, salah satu pekerja workshopnya kantor. Kesana juga sebenernya dalam rangka nemenin Kapon (senior interior designer di kantor saya) buat ngejemput mobilnya kesana. Eh sesampainya disana, daku berjumpa lah sudah dengan kucingnya bang Acai yang gedeeeeeee banget! Berat pulak! Tapi lucunya juga nggak nahan.

Parahlah. Mirip Garfield banget!
Mau punya jugaaaak!
Uhuhu~

*jeritan gadis pecinta hewan*


A lifetime dream of mine

Wednesday, September 25, 2013


Dari kecil, saya suka banget bermimpi dan berimajinasi. Setiap hari kerjaan saya adalah berimajinasi. Menggambar sambil berimajinasi, main orang-orangan sambil berimajinasi, main petak umpet sambil berimajinasi. Hahaha... Kalo main petak umpet saya selalu sambil berimajinasi bahwa ini masalah hidup dan mati, Jendral! Saya harus menyelamatkan diri dari para pembunuh yang sedang mencari-cari!

Habis mandi, dan ngeliat cermin, saya berimajinasi. Menjadi tokoh-tokoh sinetron kesukaan mama, dan berekspresi macem-macem di depan cermin. Lanjut berjoget india. Lanjut meratap sedih bak cerita bawang merah bawang putih. 

Kebiasaan menatap cermin lalu berimajinasi ini masih jadi kebiasaan saya sampe sekarang, walaupun yang diimajinasikan udah beda. Kalo sekarang, pas liat cermin itu berimajinasinya membayangkan bakal jadi apa saya beberapa tahun lagi. Bakal ada dimana. Bakal jadi apa. Nah si bakal-jadi-apa ini lah yang saya perankan di depan cermin. Hahahha. Ya ampun. Udah gede kamu Cooooor!!! Plis deh... :)))

Trus, sebagai desainer interior kan saya juga pastinya sering bikin layout dan desain rumah tinggal tuh... Nah saya juga selalu berimajinasi. Sambil memperhatikan layoutnya, saya membayangkan saya masuk ke dalam rumah itu. Lewat pintunya, kamarnya, dapurnya...semua langsung kebayang di kepala saya. Dan itupun juga udah jadi kebiasaan saya sejak SMP, karna sejak SMP saya udah rajin mendesain denah rumah di buku kotak-kotak saya. Makanya sering dimarahin mama karna dikira ngelamun sambil belajar. Padahal, bukan ngelamuuun... tapi lagi sibuk di alam imajinasi sambil merhatiin denah yang saya bikin. Wkwkwkwk.

Iya, cita-cita saya adalah jadi arsitek. Sejak SMP. Dan saya bercita-cita mau kuliah di ITB. Arsitektur ITB. Tapi lambat laun, saya mulai beralih ke Desain Interior, karena lama-lama saya sadar, saya bukan ingin membangun dinding-dinding aja. Yang saya imajinasikan selama ini kan bagaimana aktivitas dan perasaan saya di dalam ruangan yang udah saya bikin di buku. Berarti saya lebih tertarik ke hubungan antara manusia dengan ruangan. Feel nya. Dan itu bakal lebih saya dapet ilmunya di jurusan desain interior.

Eeeeh, cari-cari info, ternyata di ITB juga ada jurusan itu. Langsuuung lah tancap gas fokus untuk lolos DI-ITB. Eh beneran lolos! Itu yang namanya kekuatan mimpi! Wkwkwkw. Sampe akhirnya sekarang udah jadi Interior Designer beneran, dan kerja di konsultan interior dan furniture di Brunei Darussalam.

Nah. Mimpi saya sejak kecil udah tercapai. Berarti saya sekarang menjalani hidup tanpa impian?
Weits! Nggak dong!
Sekarang saya punya mimpi baru. Menjadi orang gede bukan berarti gabisa lagi bermimpi kayak anak kecil dong. Hehehe. Sejak di bangku kuliah, saya udah punya mimpi baru. Mau tau? Ayo dengarkan suara hati saya sekarang! Hahaha.


Pas kuliah, saya getol mempelajari seni dan budaya Minangkabau. Saya aktif seaktif-aktifnya, rajin serajin-rajinnya dalam berorganisasi dan berkesenian di Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB. Apalagi saya sukaaaaaaaa banget menari sejak kecil dulu. Walhasil selain ilmu kepemimpinan dan berorganisasi saya yang meningkat tajam, kemampuan menari saya juga meningkat tajam.


Di UKM ini, pada akhir kepengurusan bakal ada List Kemampuan Tari dan disana bakal keliatan berapa jumlah tari yang udah dikuasai dan diakui oleh master tari. Rata-rata teman-teman saya sukses mempelajari tari sebanyak 3-6 tari selama 3 tahun menjadi anggota aktif UKM-ITB. Saya? Saya dengan gemilang dapet pengakuan kemampuan tari sebanyak 9 tari (eh atau 10 ya?) Heuheuheu... Saya getol belajar juga karna pas di awal masuk UKM, saya udah janji bakal mempelajari 3 tari per tahun, berarti total 9 tari. *boleh dong pamer*

Sambil berkesenian di UKM, rasa cinta seni dan budaya Indonesia itu makin muncul. Apalagi saya orangnya cukup idealis. Kalo udah suka sesuatu, bakal cinta mati dan kubela sampai mati *aih lebay!*
Akhirnya saya pengen suatu hari bikin sanggar. Bukan cuma sanggar tari, tapi sanggar seni. Dan budaya. Biar anak2 Indonesia masa depan rajin berkarya dan tetap mau melestarikan dan mencintai seni budaya. Seriusan, seni dan budaya Indonesia itu warisan yang luar biasa lho. Ketimbang sumber daya alam, saya jujur aja lebih menghargai Indonesia dari seni dan budayanya. Soalnya seni dan budaya itu kan buah pemikiran, bukti peradaban dan sejarah masyarakat. Dan itu kereeeeeeeeen!!

Trus, lama-lama saya juga pengen mendirikan SD. Karna saya pikir, masa-masa SD itu justru masa yang paling tepat buat diberi pemikiran yang benar. Ngeliat kurikulum yang kacau sekarang dan cara ngajar guru-guru yang nggak pas, saya takut Indonesia ini ya bakal gini-gini aja. Nggak ada perubahan. Semrawut.

Menurut saya, cara mengajar guru harus dirombak. Khususnya guru SD. Anak SD itu, sekalinya mereka termotivasi untuk bermimpi dan bercita-cita tinggi, beuh! Bakal nempel terus di diri mereka. Karna anak-anak itu masih seperti kertas putih yang kosong. Siap diisi oleh kita. Nah kitanya ini lho...bisa nggak mengisi kertas kosong itu sama warna-warna dan rencana2 indah untuk Indonesia? Kalo yang kita isi itu cuma tinta tinta hitam carut marut, ya ampun... Indonesia pasti bakal suram ke depannya.

Dulu pas kecil saya sering denger, "masa depan Indonesia ada di tangan kalian". Sekarang saya pikir, kata-kata itu bukan berarti cuma di tangan generasi saya. Justru, selain benar2 membangun Indonesia langsung ke pusatnya, saya pikir saya juga harus menduplikasi semangat itu ke generasi berikutnya. Jadi ya sistemnya berkelanjutan. Membangun Indonesia itu gabisa cuma dengan sekali rombak... Harus berkelanjutan, harus ada penerusnya. Harus dijaga dan dipertahankan.

Trus trus, saya kepikiran lagi... Generasi yang cinta seni budaya Indonesia, generasi yang pintar secara keilmuan, keren banget! Etapi ternyata ada satu lagi yang kurang. Mereka juga harus jadi generasi yang paham ilmu agama. Karna dengan modal agama yang kuat, insyaAllah mereka nggak akan mudah jatuh ke jurang kenistaan. Mereka bakal berpikir 1000 kali untuk melakukan dosa.

Contohnya aja, ada orang yang mau menyuap mereka demi mendapatkan suatu hal. Dengan ilmu yang tinggi, jiwa nasionalisme dan agama yang kuat lagi kokoh, saya yakin, mereka nggak akaaan deh tergiur dengan suapan itu. Pribadi ini yang harusnya dibentuk. Bukan cuma satu. Tapi banyak! Karakter kayak gitu yang harus dimiliki pemuda Indonesia! *aih, menggebu2 banget saya*

Nah. Sip. Itu penjelasan mimpi saya belakangan ini. Hahhaha.
Bahkan saya udah menggambar visualisasinya. Belum diwarnain dengan serius sih, hahaha...tapi yang penting intinya udah dapet. Ntar kalo ada waktu dilanjutin ngewarnain lebih serius deh. Cekidot!


Yap!
Itu dia mimpi saya. Membangun sebuah NKRI. Negara Kesatuan - Republik Ilmu. Nyahahaha~
Oh tenang, saya bukannya mau hengkang dari Indonesia...hahaha...saya namain republik ya karna itu tadi, sebagai kebutuhan imajinasi. :p
Tadinya mau disebut "kampung ilmu", tapi kayaknya bakal terasa lebih kuat dan kokoh kalau dinamain "republik".

Saya pengen membangun sebuah area kosong yang luas, menjadi sebuah kompleks berisi tatanan yang saling mendukung. Pengetahuan, agama, dan seni budaya.

Di Minangkabau, ada yang namanya tigo tungku sajarangan. Terdiri dari alim ulama, cendekiawan (cadiak pandai), dan penghulu (pemimpin adat). Tiga elemen inilah yang menjadi tiang utama kehidupan bermasyarakat Minangkabau. Mereka menjadi "tungku" yang menopang panci kehidupan diatasnya. Setelah saya perhatikan mimpi saya, eh ternyata sejalan dengan konsep tigo tungku sajarangan ini. Hahahha...

Ya! Inilah mimpi jangka panjang saya sekarang.
Dan sekarang saya dilema. Kalau terus-terusan kerja di Brunei begini, yang tiap hari cuma ngerjain gambar denah dan desain ruangan punya orang di komputer, kapaaaaaaaaaan saya bisa menebus mimpi ini? Akh...
Harus cari akal.
Harus pulang ke Indonesia.
Harus cari jalannya, harus mulai melangkah.
Uhuhuhu~
Wish me luck ya!

Manajemen Perubahan

Monday, September 2, 2013

Beberapa bulan lalu saya ikut sebuah training. Temanya adalah Manajemen Perubahan. Pemberi materinya adalah Mbak Nurtria Meiradiani, yang berprofesi sebagai Human Resources Director di perusahaan H&M Indonesia. Isi trainingnya cukup menarik dan membuat saya berpikir dua kali kalo lagi menghadapi perubahan.
Perubahan itu pasti terjadi. Pada siapapun, kapanpun, dimanapun. Perubahan itu pasti. Karena hidup itu dinamis, selalu bergerak. Dan kondisi kehidupan tidak akan selalu sama dari waktu ke waktu. Maka untuk menyesuaikan, pasti akan muncul suatu perubahan.

Masalahnya, banyak dari kita yang gabisa me-manage bagaimana caranya kita menghadapi perubahan tersebut. Banyaaaaak banget orang yang ketika dihadapkan dengan suatu perubahan, bakal langsung defense terhadap perubahan tersebut. Dan ternyata itu adalah hal yang wajar. Karena perubahan itu, memang begitulah prosesnya.

Dalam suatu perubahan, ada beberapa fase yang terjadi sampai akhirnya perubahan itu melebur dan diterima. Pada awalnya, perubahan itu akan ditolak. Manusia akan menolak adanya perubahan. Kenapa? Karena perubahan itu butuh pengorbanan. Mengorbankan apa yang sudah dirasakan nyaman pada saat ini, lalu susah payah memulai dan mengusahakan dari awal, susah payah beradaptasi, dan lain-lain. Kadang perubahan juga dirasakan sebagai suatu kerugian untuk kepentingan pribadi.

Lambat laun, ketika tidak ada yang dapat dilakukan untuk menolak perubahan dan nyatanya perubahan itu terus terjadi, yang bisa dilakukan manusia adalah mencoba beradaptasi. Terpaksa. Ya, awalnya terpaksa. Namun lama-kelamaan proses adaptasi itu akan menjadi mudah. Manusia akan terbiasa dengan sistem baru tersebut dan akhirnya perubahan itu akan menjadi sesuatu yang dapat mereka terima. Ketika mereka sudah menerima perubahan itu, barulah mereka mulai menyukai. Barulah mereka mulai menyadari apa hikmah di balik perubahan.

Begitu seterusnya. :)

Saya sendiri adalah orang yang nggak gampang ikut-ikutan. Ketika ada perubahan dan orang-orang protes sana sini, saya cenderung memikirkan nilai di balik perubahan tersebut. Apa untungnya, apa ruginya, dan kenapa perubahan itu terjadi. Ketika saya sudah memahami hal tersebut, pada akhir pemikiran itu saya bakal bisa menyimpulkan; Ya. Biarlah perubahan ini terjadi. Mudah-mudahan hasilnya baik. Hmmm, saya harus menyesuaikan nih. Harus mengubah sistem saya supaya bisa sesuai dengan perubahan tersebut. 

Yah, saya biasanya lebih fokus sama hal positif dari suatu hal ketimbang harus koar-koar protes mengenai hal negatif... wkwkwk... Soalnya saya percaya sama yang namanya law of attraction. Semakin hal buruk ditentang dan dipikirkan, apalagi diprotes sepenuh hati, semakin hal buruk itu terjadi. Kenapa kita nggak mengambil hikmahnya aja, dan fokus pada kebaikan yang ada di dalamnya? Supaya hal-hal baik itu meng-attract hal-hal baik lainnya dan pada akhirnya, ia akan menjadi sesuatu yang baik.

Satu lagi hal yang saya simpulkan, untuk membuat perubahan itu efektif, butuh kerjasama antar individu. Saling bahu membahu, bantu membantu, saling menopang. Karena melakukan perubahan ke arah yang lebih baik itu memang suliiiiiiiiiiiiit sekali. Tapi ya kayak kata pepatah, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. :)

Ayey! Gajian!

Ampun deh, yang namanya waktu itu mengerikan sekali kakaaa...
Rasanya baru kemaren ngurusin visa ke embassy Brunei di Jakarta seorang diri, nyasar2 karna gakenal kota Jakarta. Trus rasanya baru kmaren rasanya excited di pesawat karna pertama kalinya ke Brunei.

Trus sekarang udah nyaris 4 bulan aja disini. Ya ampun...
Alhamdulillah sih...soalnya emang pengen cepet2 pulaaaaaaang ke Indonesiaaaaa... ke Bandung lagiiiiii >_<
Abisan disini sepi pisaaaan... Gila banget lah, jalannya lebar2 udah kayak jalan tol, padahal penduduk Brunei sendiri cuma seuprit...hahhaa...
Btw ini sedikit foto2 yah...Foto Kantor perdana mentri, gedung majlis, dan international conference center nya. foto lain kapan2 diupload lagi deh :)





Disini kehidupannya bisa dibilang beda banget sama Indonesia. Nggak ada sepeda motor disini. Semua orang punya mobil. Mobil juga bukan main murahnya (yg second hand yah, tapi itu juga bagus2 kok). Trus katanya dari bank disini emang gampang banget ngasih pinjeman ke masyarakat, buat beli mobil. Wew~
Tapi karna toh saya gabisa nyetir, Alhamdulillah ga tertarik minjem bank. Wakakak...
Mari berdayakan mobil-mobil kenalan disini aja.

Disini juga barangnya kebanyakan impor. Ya beras, gula, buah, semua deh. Selama disini yah, belum pernah saya nemu yang namanya sawah dan ladang. Ngga ada petani disini. Dan hebatnya, ngga ada yang namanya pengangguran disini. Tiap masyarakatnya kayak ada jaminan gitu kayaknya dari kesultanan buat kerja. Yang ngga kerja, dikasih kerja. Yang miskin, dikasi rumah atau modal usaha. Sultannya rutin mengunjungi masyarakat, terjun langsung buat melihat negaranya dari dekat.
Gila lah. Luar biasa. Pantes makmur gini negaranya.


Lalu lalu ceritanya kemaren gajian. Yiiihaaaa~
Gajian ketiga selama di Brunei ini.

Gaji pertama, abis buat beli HP baru karna BB ga laku disini. Jadi ngga ada yg namanya paket BB atau apalah itu yang bikin BB murah banget dan dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat Indonesia, sampai lapisan pengemis sekalipun.
(Iya, pengemis sekalipun. Saya pernah ketemu pengemis ber-BB di depan BEC Bandung. Jadi gaperlu songong kalo punya BB mah, gaperlu. You're just a standard person.)
Gaji kedua, abis buat uang kuliah adek laki-laki saya yang baru aja lulus di Universitas Andalas jurusan Hukum.
Trus ini gaji ketiga asoy dong? Ga ada keperluan lagi?
Nah. Masalahnya, saya udah kadung janji ke adek saya yg kuliah itu, bahwasanya kalo dia lulus kuliah di Unand itu, saya bakal beliin doi laptop. Nyahahahahahaha mampuslah gueeee.


Oke oke oke. Tarik napas Cor!
Dan jangan lupa hembuskan lagi.
Hahahaa...
Gapapa atuh duitnya abis buat adek. keperluan dan angan-angan pribadi ditahan doloooo ya qaqa.
Wkwkwk

Taare Zameen Par ~ Like Stars on Earth (every child is special)


Taare Zameen Par.
Itulah judul film india (haha, iya! india!) yang selalu saya rekomendasikan untuk ditonton pada siapapun, bahkan untuk orang yang gasuka film india sekalipun.

Kenapa ngotot banget? Karna film ini penting untuk ditonton! Demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater, film ini film wajib tonton.




Taare Zameen Par artinya adalah "like stars on earth". Menceritakan tentang seorang anak bernama Ishaan, berumur 8 tahun. Ishaan sudah beberapa kali tinggal kelas. Dia selalu dimarahi, di rumah, di lingkungan bertetangga, dan di sekolah. Guru-guru di sekolah menyebutnya bodoh. Idiot. Bahkan ayahnya sendiri juga mengatainya begitu.

Ishaan tidak bisa membaca dengan lancar. Menulispun suka terbalik-balik. Bukan hanya terbalik kata-katanya, tapi terbalik huruf-hurufnya. Sampai kadang tulisan Ishaan terlihat seperti tulisan rusia. Keadaan Ishaan sangat bertolak belakang dengan Yohan, sang kakak yang selalu menjadi juara di sekolah.

Dimarahi, dimarahi, dimarahi.
Idiot!
Pemalas!
Nakal!
Bodoh!
Dimarahi, dimarahi, dimarahi.
Itulah menu keseharian Ishaan.

Sampai pada suatu hari ayahnya mengirimkan Ishaan ke sekolah berasrama, sehingga Ishaan harus tinggal jauh dari orang tuanya. Di sekolah yang barupun ternyata tidak ada bedanya. Guru-guru memperlakukan murid dengan cara mencerca, menghukum, memarahi. Jawaban dari murid harus sesuai dengan isi buku. Jika tidak sesuai dengan isi buku, jawaban itu salah. Prinsip para guru adalah membuat anak-anak kejar mengejar menjadi yang paling sempurna nilainya. Life is a race. Yang tertinggal, tidak akan berhasil.

Ishaan semakin depresi. Karna huruf-huruf masih menjadi musuhnya. Buku Ishaan penuh dengan tinta merah dari guru-gurunya. Hari-hari Ishaan dihiasi dengan hukuman demi hukuman. Dan dia pun  tenggelam dalam trauma dan dukanya. Ia trauma terhadap pelajaran. Bahkan, ia tidak mau lagi menggambar, padahal ia sangat cemerlang dalam menggambar.

Sampai akhirnya, pada suatu hari ada seorang guru kesenian yang baru, yang mengajar murid-murid dengan ceria dan menyadari bahwa ternyata Ishaan menderita dyslexia. Dia juga mengerti bahwa manusia diciptakan berbeda-beda. Begitu juga dengan anak-anak. Tiap anak itu spesial. Mereka memiliki pemikiran, cita-cita, kelebihan dan kekurangan. Anak-anak tidak boleh diperlakukan seperti kuda pacu, yang dilecut supaya kencang larinya dan menang dari kuda lainnya. Sama sekali berbeda!

Ah, pokoknya wajib tonton deh ini. Saya aja meraung-raung berurai airmata gara-gara film ini. Sampai sekarang pun selalu saya tonton ulang. Untuk terus mengingatkan saya bahwa jangan sekali-kali saya memperlakukan anak kecil dengan perlakuan seperti itu.

Film itu juga mengingatkan saya pada adik-adik saya di Padang.
Saya punya 4 adik, semuanya laki-laki. Hahahaha. Jadinya saya adalah anak paling cantik kalo di rumah. Fufufufu~
Adik pertama, namanya Rio. Sekarang berkuliah di Universitas Andalas jurusan Ilmu Hukum. Rio ini pintar, tapi kurang cepat. Sampai guru-gurunya (yang dulu adalah guru saya juga) suka bilang ke mama... "Rio kok nggak kayak kakaknya ya... agak lambat nangkepnya..."

Saya suka merasa bersalah kalau udah begitu. Bahkan Rio pernah bilang:

"Uni', walaupun io nggak sejenius uni', io bakal berusaha biar bisa jadi anak yang dibanggain mama juga."

Ah, Dek... Kamu itu pintar kok. Cuma butuh usaha lebih aja...sedikiiiiit lagi aja. Kamu pasti bisa melebihi uni' malahan. Dan jangan membanding-bandingkan diri sama uni'. Kita berbeda. Kamu punya kelebihan yang uni' nggak punya. Oke? :)

Adik kedua, namanya Bevin. Bevin iniiii mirip banget sama karakter Ishaan. Mukanya, sifatnya, cara melihatnya, kreativitasnya. Mirip banget! Dan di rumah pun dia suka dimarahi karena dianggap nakal. Padahal dia nggak nakal, dia cuma punya keingintahuan yang terlalu besar. Dia cuma terlalu kreatif. Dia cuma terlalu jenius.

Saya perlihatkan film Taare Zameen Par ke mama. Biar ditonton mama. Trus mama nangis. Dan habis itu, mama mengelus kepala dan memeluk Bevin sambil menangis. Alhamdulillah. Mudah-mudahan, habis ini mama akan lebih mengerti lagi sama Bevin. :)

Adik ketiga, namanya Darrel. Sekarang kelas 2 SD. Waktu kelas 1, Darrel gabisa membaca. Dia susaaaah banget belajar huruf. Tapi kalo angka-angka, cepet banget nangkepnya! Hahahhaa.
Mama udah capek ngajarin Darrel membaca. Dia selalu lupa sama huruf-huruf, padahal udah berulang kali diajarin. Mama naik pitam. Ngajarinnya mulai emosi. Trus mama ngomong ke ayah, 

"Yah! Ajarinlah anak ayah nih! Mama udah sebel."

Oke. Gantian sama ayah. Ayah ngajarin, awalnya sabar. Eh lama-lama naik pitam juga. Wedew.
Trus mama marah-marah lagi. Ah, mama ini. Mungkin karna stres, apa emang lagi capek atau gimana, emosinya jadi gampang naik. Darrel nangis, dan gamau lanjut belajar lagi malam itu.

Besoknya, saya ngambil beberapa lembar kertas HVS kosong, terus menyeret Rio sama Bevin ke kamar saya.

"Ngapain, Ni'?"
"Nih. Potong-potong kertas HVS-nya jadi 8 bagian."
"Hah?Buat apah?"
"Udah, kerjain ajaaa..."

Akhirnya Bevin melipat kertas, Rio menggunting kertas. Mereka nurut aja saya suruh, wkwkwk... Aaaah... enaknya jadi kakak tertuaaaa~ Nyahahaha... :p

Kertas yang udah dipotong tadi, mulai saya tulisi. Saya tulisi dengan huruf-huruf, huruf besar dan huruf kecil. Saya membuat huruf-huruf yang gendut, meninggalkan space kosong di bagian dalamnya. Bevin langsung mengerti.

"Oooooh...buat belajarnya Darrel ya Ni?"

:)
Huruf-huruf buatan saya selesai. Darrel sedang bermain di luar rumah, lari-larian bersama anak-anak lainnya. Sepulangnya Darrel bermain, saya panggil adik saya itu.

"Arel, sini! Belajar sama Uni'!"

Muka Darrel langsung asem. Udah membayangkan pasti bakal kena marah lagi. Wkwkwkwk. Tapi muka itu berubah jadi muka heran ketika saya mengeluarkan kertas-kertas bertulisan huruf-huruf, daaaaaan sekotak pensil warna.

"Mewarnai yuk!"

Muka Darrel langsung cerah. Secerah hati saya yang melihat senyumannya. ^_^
"Ayuk!"

Saya menebarkan kertas-kertas di lantai. Saya acak-acak kertas itu, lalu saya suruh Darrel yang duduk di seberang saya untuk mencari huruf yang saya mau. Kalau dia berhasil menemukan huruf itu, dia boleh mewarnai huruf tersebut.

"Coba cari huruuuuuuuuffff... hmmmm... apa yaaaa... huruf b kecil!"

Darrel mengaduk aduk tumpukan kertas itu. Dan menyerahkan huruf "p".

"Ini bukan b... ini p... Sini-sini coba Arel liat. Kalo huruf p itu, kepalanya besar... karna dia p-p-pintar...jadi kepalanya besar...oke?"
"Oke!"

Sengaja saya mengkorelasikan antara kata pintar dan huruf p. Supaya Darrel bisa mengumpamakan huruf p, kata-kata pintar, dan kepala besar.

"Kalo b itu... hmmm... b itu ibu-ibu...jadi gendut...jadi kalo gendut apanya yang besar?"
"Perut..."
"Coba mana, yang perutnya besar?"

Darrel kembali mengaduk-aduk, dan menyerahkan huruf b kecil pada saya sambil tertawa-tawa geli, "Ini ibu gendut!!!"

"Hebaaaaat!!! Kalo gitu, sekarang AYO KITA WARNAAIIIIN!!!", teriak saya bersemangat, seperti orang yang memenangkan olimpiade. Darrel ikut berteriak dan melompat-lompat. Lalu kami mewarnai huruf itu sama-sama.

Selesai mewarnai, saya mengajak Darrel mencari contoh kata-kata yang memakai huruf b. Baju, bola, bendera, batu, bayam, bubur, dan lain-lain... ^_^


Dalam satu hari, saya cuma ngajarin 5 huruf. Karna takutnya kalo sekaligus bakal gampang lupa. Jadi, pelajaran dilanjutkan besoknya. Tapi besoknya saya malah kaget. Pas lagi nyuci piring di dapur, tiba-tiba Darrel datang lari-lari ke arah saya dan berteriak.

"UNI', AYO BELAJAR HURUF LAGI!"

Ah, gilaaaaaaaaaa saya senang bukan kepalang! Hahahhaa... Kegembiraan apalah yang bisa melebihi kegembiraan seorang pengajar ketika mendengar orang yang kamu ajarin justru minta belajar, bukan kita yang suruh belajar... Kyaaaaaaaaaa~ >_<

Dan begitulah seterusnya. Saya mengajari huruf ke Darrel sambil mewarnai selama seminggu. Selesai mewarnai, saya mengajak Darrel untuk menyusun huruf demi huruf untuk membentuk berbagai kata. Mama cuma melihat. Saya melirik-lirik mama sambil menaik-turunkan alis, seolah berkata, "Beuh! Keren kan Uni'...Siapa dulu dong~"

Mama cuma membalas dengan cibiran, membalikkan badan, lalu tersenyum diam-diam. Hahahaha... Ah, mama sok cool ah. :D

Aku rindu piring!

Friday, August 30, 2013


Bagaimana ini~
Aku merindu~
Merindukan menari.
Aku juga merindukan melatih adik2 UKM.



Huwaaaaaaah~
Badan ini udah kaku banget rasanya, udah gatel pengen nari. Apalagi barusan nyetel musik tari piring. Astaga, langsung dag dig dug kangen banget sama UKM, sama kampus, sama menari, sama manggung di pentas Sabugaaaa!!!



Akhirnya terpaksa melonjak-lonjak di kamar, menari piring pake piring invisible. Hahahha.
Abisnya nggak ada piring kaca yang gedenya pas buat dipake nari piring disini.


Kapan kamu pulang Cor, kapan!
Inilahkan, susahnya kalo nari udah mendarah daging gini.
T_T


Hoshizora Foundation

Wednesday, August 21, 2013

Ceritanya kemaren itu liat-liat dan baca-baca kisah beberapa temen yang jadi pengajar muda di Indonesia Mengajar. Trus jadi sedih sendiri, karna berkontribusi kayak begitu juga merupakan cita-cita saya. Pasti menyenangkan banget bisa berbagi sama anak-anak itu. Pasti pengalaman yang nggak terlupakan banget, menjadi Pengajar Muda itu.

Akhirnya saya hubungi temen saya. Nanya tentang program Indonesia Mengajar itu. Eh tapi lagi nggak buka pendaftaran. Oh yaudah~ saya pikir.

Tapi ternyata hati masih ngga enak rasanya. Masih kepikiran. Masih gatel pengen ikutan menolong pendidikan anak Indonesia. Soalnya saya sendiri juga cukup sulit menempuh pendidikannya. Soalnya yang biayain saya cuma mama, dan mama cuma guru SMP dengan 5 anak sebagai tanggungan. Hehehe. Jadi kerasa deh itu perjuangan dalam menggapai gelar sarjana ini bener-bener ampun-ampunan.

Sekarang pas udah jadi sarjana, ya berarti giliran saya dong yang jadi penolong. Membayar pertolongan orang-orang dan pertolongan Allah yang akhirnya bisa bikin saya bergelar Sarjana Desain kayak sekarang.

Akhirnya nanya lagi ke temen... ada nggak, kira-kira program terpercaya buat kakak asuh gitu... saya pengen jadi kakak asuh. Oleh temen saya ini, saya dikasih sebuah nama. Hoshizora. Langsung saat itu juga saya meluncur ke google dan nyari tau seluk beluk Hoshizora ini.

Di Hoshizora ini ada program Kakak Bintang. Ya seperti kakak asuh gitu lah ya. Kewajibannya adalah membiayai pendidikan satu/lebih Adik Bintang selama setahun. Si adik bintang ini udah melalui proses seleksi, jadi nggak perlu khawatir bakal sampai ke tangan yang salah. Bahkan kita juga bisa memilih kriteria adik bintang yang diinginkan, misalnya gendernya, usianya, dll. Dan yang saya baca serta lihat dari internet, program ini sangat terpercaya. :)

Akhirnya gitu deh. Langsung hari itu juga saya mendaftar menjadi Kakak Bintang. Dalam beberapa hari, saya mendapat email berisi pemberitahuan bahwa adik bintang untuk saya sudah dipilihkan. Namanya Sahidah Nur Azizah. Yang saya belum pernah ketemu. Hehehe.



Alhamdulillah sudah ikut berkontribusi walaupun ini sangat kecil nilainya. InsyaAllah, kalau ada kesempatan, saya ingin berkontribusi lebih besar lagi. Tangan saya masih gatel pengen terjun langsung untuk membantu, bukan cuma sekedar materi. Tapi juga pemikiran, kreativitas, dan tenaga.
Indonesia, tunggu aku ya!
Aku pasti pulang dan mengabdi!
Janji! ^_^

Mengirim naskah fiksi ke GPU

Saturday, July 27, 2013


Ceritanya, duluuuu sekali.
Sewaktu saya masih SMA.
Saya benar-benar gila baca. Fiksi sih, bukan bacaan non-fiksi. I do like imagine things soooo much since i was a child. And nothing changes till now. Hahaha.

Setiap bulan, saya selalu ngabisin sekitar 200ribu-300ribu dari uang saku bulanan yang dikasih papa buat belanja buku bacaan. Novel dan komik sih kebanyakan. Novel2 dibeli di toko buku Gramedia, komik2 belinya di Pasar Atas Bukittinggi, Sumbar. Disana ada kaki lima yang jualan komik seharga 5ribuan perbiji. Murah banget dibanding harus beli di Gramedia yang waktu itu mencapai 19ribu. Asal pinter nyarinya, dapet deh komik original berkualitas dengan harga 5ribuan. Nyehehehe.

Karna hobi baca, akhirnya jadi hobi ngarang cerita juga. Sebenernya hobi ngarang cerita udah ada dari kecil sih. Pas SD juga pernah dipilih jadi wakil sekolah buat ikut lomba mengarang *tapi sayang pas hari H sayanya sakit*. Nilai karangan selalu bagus. Yah begitulah, akhirnya jadi hobi juga nulis2 gitu.

Sampe akhirnya pada suatu hari, saya merampungkan sebuah novel. Saya tulis tangan di 2 buah buku tulis bergaris isi 100 lembar. Bergenre teenlit. Ya, tulis tangan! Hahaha... Karna waktu itu di rumah saya ngga ada komputer, dan males juga kan tiap mau nulis harus ke rental komputer dulu. Keburu ilang lah ide ceritanya. Akhirnya ditulis tangan aja.

Dua buah buku tulis saya itu, saya gabung jadi satu dan jadilah dia novel handmade buatan saya. Tulisannya acak adut sih, pake pensil pula. Hahaha... Soanya kalo nulisnya nggak buru2, takut idenya kabur. Yaudahlah tulis aja kenceng2 walaupun acak adut goresannya. Kayak dokter.

Lalu, entah gimana caranya, novel handmade saya itu jadi tersebar di sekolahan. Di kalangan seangkatan doang sih, tapi dari kelas yang satu ke kelas lain, temen2 itu pada ngantri bacain novel itu. Gatau gimana ceritanya bisa begitu. Hahahaha. Dan yang bikin seneng adalah, semua pada suka sama novel itu. Dan mereka menyarankan buat dikirim ke penerbit.

Akhirnya saya minta tolong seorang sahabat buat ngetikin itu novel biar bisa di print dan dikirim ke penerbit. Tau jadi berapa halaman novel saya itu pas udah diketik di komputer? 300 halaman lebih! 
Alamak~ Itu kebanyakan...
Tapi yaudalahya, coba dulu aja.

Dan saya kirimlah naskah itu ke penerbit Gramedia Pustaka Utama. Dalam hati saya waktu itu, "Gue udah setia banget belanja2, ngabisin duit jajan guebuat beli2 buku di toko lo, awas aja kalo naskah gue ngga lo terima." Hahahha. Nggak lah. Namanya juga mencoba peruntungan, diterima sukur, ngga terima juga gapapa. Berarti harus diperbaiki lagi. :)

10 hari kemudian, datanglah surat dari GPU. Isinya kurang lebih ngasih tau kalo naskah saya udah mereka terima dan bakal dipertimbangkan kemungkinan penerbitannya.
Olalaaaaaaaa seneng banget waktu itu. Berasa dapet angin segar.

Tapi apa yang kemudian terjadi? 6 bulan tiada kabar berita. Eh apa 8 bulan ya. Lupa euy.
Yang penting pada suatu hari dateng lagi tuh, surat dari GPU, isinya permohonan maaf bahwa naskah saya belum bisa diterbitkan sama mereka. Ajegileeee, nunggu ditolak aja harus berbulan-bulan dulu. Wkwkwwk...

Tapi masih untung sih dikasih tau kalo ditolak. Coba deh kalo lagi ngelamar kerja, kalo ditolak boro2 ngabarin. Kita malah dibiarin, digantung tanpa tali. Padahal kan perempuan butuh kepastian, men! *apasih*

Dari beberapa tulisan di internet yang saya baca, ada tulisan kalo ditolak dalam waktu yang lama itu musti berbangga, karna berarti penerbit sebenernya masih mempertimbangkan dan menganggap naskah kita punya kemungkinan terbit. Tapi mereka masih bingung untuk nerbitin atau nggak. Karna untuk nerbitin buku itu mereka harus memprediksi, ini buku bakal sukses atau nggak... Karna bagaimanapun mereka kan pengen nyari keuntungan yang gede.

Trus saya pikir,
"Ah! Bohong... Dibalesnya lama berarti naskah gue nggak cukup menarik untuk mereka baca duluan sampe abis. Ini juga akhirnya dikabarin karna baru inget kali, ada naskah kececer..."
Hahaha.

Trus kata internet lagi,
"Oh, bukan begitu Nak... Naskah yang sejak awal jelek, sejak awal juga udah pasti disisihkan. Nggak akan dibaca lagi, nggak akan dibahas lagi. Karna penerbit itu, ngeliat beberapa halaman juga udah tau, mana yang layak mana yang nggak. Yang masih dianggap layak, ya dipertimbangkan lagi kemungkinan penerbitannya... begitu..."

Well, make sense sih. Tapi tetep aja gatau sampe sekarang apa emang begitu adanya. Daaaaan harusnya saya nggak nyerah kan ya, nggak berenti nulis. Tapi sejak itu, saya sama sekali ngga pernah lagi menulis cerita. Banyak sebenernya ide bertebaran, tapi saya gapernah lagi ngambil pensil saya dan mulai mencoret.

Sebenernya saya bukannya nyerah sih... Cuma setelah itu, saya masuk kuliah dan disibukkan sama kegiatan kampus. Akademik, organisasi, tugas-tugas, event-event, ketemu teman baru. Dan pas kuliah, uang jajan saya gabisa lagi saya belanjain buat buku, karna makan dan uang kosan itu lebih penting! Wakakaak.

Yah, nantilah, kita coba lagi menulis. InsyaAllah ada waktunya.
Di kepala ini udah bertaburan ide-idenya. Untuk sementara, idenya aja dulu yang dicatet, biar ngga lupa.

Kenapa nggak revisi aja naskah yang dulu itu?
Errr... soalnya naskah yang dulu itu sudah hilang. Entah kemana.
Dan lagi, naskah dulu itu udah ngga cocok lagi jalan ceritanya sama umur saya sekarang. :')

I found a cool site!

Friday, July 26, 2013

Well, see for yourself here: http://patakk.tumblr.com/

Toy Car Installation by David T. Waller

Well, i have never thought that car toys are interesting.
Seriously, why oh why, boys loving them.
*maybe it's just the same question for girls about why they love dolls, hahaha*

But after I saw this installation, i think i will fall for these toys too.hahaha...
What a pretty color.
*And i think, someday Jakarta will be like this. A total traffic jam. Wkwkwk*







Books Sculptures by Lisa Occhipinti

I found this on my tumblr today and felt that this is totally aaaaaaaaaweeesoooooome!!!
Everyone can make this but none of us had an idea to  make a book looks like this! Definitely creative!










Lisa Occhipinti is an artist, photographer, author and instructor based in Venice CA. Her art, centered on books, is abstract yet narrative in both her two-dimensional work and her assemblages. Combining digital photography on fabric with embroidery, she tells fluent stories by editing together images of and from books, as well as from life, then enhancing the surfaces with hand-stitched pattern and texture. She also takes portrait photos of books to capture their singularities. Her sculptures, where parts of books are assembled into bespoke forms, are concerned with the inner lives and histories of books as objects.
She has written and illustrated The Repurposed Library (STC/Abrams) and her Bookmobiles have been included in a compendium on paper arts titledPapercraft (Gestalten). Most recently she has contributed as an essayist toThe Laws of Subtraction by Matthew May (McGraw-Hill). 
WIth a BA in Fine Art, Lisa has studied in France with Parsons School of Design and in Italy with The School of Visual Arts. She was a faculty member at the New Hampshire Institute of Art for five years. While there she coordinated and taught their first summer abroad program at the Burren College of Art in Ballyvaughn, Ireland. She has also taught at the Art Center at the Currier Museum of Art, and the Brentwood Art Center and the Craft and Folk Art Museum in Los Angeles. 

source: http://www.locchipinti.com/home.html

Blog Belajar Bahasa Hindi

Well, you know... Buat yang udah kenal saya, pasti tau kalo saya suka banget sama India sejak dulu kala, sejak saya masih di dalem perut mama. Ahahahha~

Jadi ceritanya, pas mama hamil saya dulu, mama itu getol banget nonton film india. Mama selalu nonton film india di bioskop Parahyangan-Bandung. Nah yang namanya bioskop itu nggak tiap hari ganti2 film kan? Film yang sama bakal diputer berhari-hari. Eh si mamah, ga cukup sekali tonton. Film india dengan judul yang sama itu masih aja ditontonin tiap hari. Sampe suatu ketika, mama bilang, si penjaga loketnya itu udah hapal sama mama, dan ngomong gini:

"Wah, teh... nonton lagih? Udahlah teteh masuk ajah..."

Hahahha...sampe digratisin gitu sama si penjaga loket. Kocak banget.

Gitu deh si mamah, gila india banget pas hamil saya itu. Mungkin gara-gara itu saya mukanya jadi india banget sekarang. Padahal nggak ada darah indianya. Wkwkwkwk...

Nah, saya akhirnya tumbuh bersama film india. Karna mama masih aja gila india. Haha. Mama itu hapal banget sama dialog, judul, lirik lagu, dan nama-nama artis india. Trus yaaa namanya juga anak kecil, saya pun terkontaminasi lah ya sama mama. Walhasil saya gedenya juga ikut-ikutan gila india. Buahahahhaa...

Trus, saya ini punya ketertarikan yang gede di bidang seni budaya dan bahasa. Saya juga orangnya kan gampang nangkep dan cepet belajar hal-hal baru. Apalagi kalo saya suka, ah...gampang bangetah itu nempel di kepala. Jadi deh, saya belajar bahasa india secara otodidak.

Sebenernya nggak ada niat buat serius belajar bahasa india (hindi) itu. Cuma karna keseringan nonton film india dan lagu-lagu india, akhirnya ngerti sendiri sama bahasanya. Trus juga saa punya temen orang india yang ngajarin saya langsung bahasa hindi itu. Ehehehe... Daaan saya juga berkiblat ke sebuah situs keren yang ngajarin bahasa hindi. Situsnya sendiri berbahasa inggris.

Tapi saya gabisa menemukan kamus bahasa hindi atau buku pelajaran bahasa hindi di Indonesia. Maka dari itulah, jrengjeeeeeeeeeeng!
Saya bikin deh sebuah blog yang isinya ngajarin bahasa hindi! Hohoohoho~
Biar para pecinta-pecinta india bisa juga belajar, walau pelan tapi pasti. *yiiihaaa*

Yang pada suka india acha acha nehi nehi, silahkan berkunjung ya, ke www.belajarbahasaindia.blogspot.com
Disana kita bakal belajar bahasa hindi mulai dari nol!
Terima kasih! ^_^

Perempuan bermata jumbo

Ola!
It's me again.
The name is Cory.
A girl, 23 years old.
Thanks for coming. :)
Blog contents © Perempuan Bermata Jumbo 2010. Blogger Theme by Nymphont.