Taare Zameen Par ~ Like Stars on Earth (every child is special)

Monday, September 2, 2013


Taare Zameen Par.
Itulah judul film india (haha, iya! india!) yang selalu saya rekomendasikan untuk ditonton pada siapapun, bahkan untuk orang yang gasuka film india sekalipun.

Kenapa ngotot banget? Karna film ini penting untuk ditonton! Demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater, film ini film wajib tonton.




Taare Zameen Par artinya adalah "like stars on earth". Menceritakan tentang seorang anak bernama Ishaan, berumur 8 tahun. Ishaan sudah beberapa kali tinggal kelas. Dia selalu dimarahi, di rumah, di lingkungan bertetangga, dan di sekolah. Guru-guru di sekolah menyebutnya bodoh. Idiot. Bahkan ayahnya sendiri juga mengatainya begitu.

Ishaan tidak bisa membaca dengan lancar. Menulispun suka terbalik-balik. Bukan hanya terbalik kata-katanya, tapi terbalik huruf-hurufnya. Sampai kadang tulisan Ishaan terlihat seperti tulisan rusia. Keadaan Ishaan sangat bertolak belakang dengan Yohan, sang kakak yang selalu menjadi juara di sekolah.

Dimarahi, dimarahi, dimarahi.
Idiot!
Pemalas!
Nakal!
Bodoh!
Dimarahi, dimarahi, dimarahi.
Itulah menu keseharian Ishaan.

Sampai pada suatu hari ayahnya mengirimkan Ishaan ke sekolah berasrama, sehingga Ishaan harus tinggal jauh dari orang tuanya. Di sekolah yang barupun ternyata tidak ada bedanya. Guru-guru memperlakukan murid dengan cara mencerca, menghukum, memarahi. Jawaban dari murid harus sesuai dengan isi buku. Jika tidak sesuai dengan isi buku, jawaban itu salah. Prinsip para guru adalah membuat anak-anak kejar mengejar menjadi yang paling sempurna nilainya. Life is a race. Yang tertinggal, tidak akan berhasil.

Ishaan semakin depresi. Karna huruf-huruf masih menjadi musuhnya. Buku Ishaan penuh dengan tinta merah dari guru-gurunya. Hari-hari Ishaan dihiasi dengan hukuman demi hukuman. Dan dia pun  tenggelam dalam trauma dan dukanya. Ia trauma terhadap pelajaran. Bahkan, ia tidak mau lagi menggambar, padahal ia sangat cemerlang dalam menggambar.

Sampai akhirnya, pada suatu hari ada seorang guru kesenian yang baru, yang mengajar murid-murid dengan ceria dan menyadari bahwa ternyata Ishaan menderita dyslexia. Dia juga mengerti bahwa manusia diciptakan berbeda-beda. Begitu juga dengan anak-anak. Tiap anak itu spesial. Mereka memiliki pemikiran, cita-cita, kelebihan dan kekurangan. Anak-anak tidak boleh diperlakukan seperti kuda pacu, yang dilecut supaya kencang larinya dan menang dari kuda lainnya. Sama sekali berbeda!

Ah, pokoknya wajib tonton deh ini. Saya aja meraung-raung berurai airmata gara-gara film ini. Sampai sekarang pun selalu saya tonton ulang. Untuk terus mengingatkan saya bahwa jangan sekali-kali saya memperlakukan anak kecil dengan perlakuan seperti itu.

Film itu juga mengingatkan saya pada adik-adik saya di Padang.
Saya punya 4 adik, semuanya laki-laki. Hahahaha. Jadinya saya adalah anak paling cantik kalo di rumah. Fufufufu~
Adik pertama, namanya Rio. Sekarang berkuliah di Universitas Andalas jurusan Ilmu Hukum. Rio ini pintar, tapi kurang cepat. Sampai guru-gurunya (yang dulu adalah guru saya juga) suka bilang ke mama... "Rio kok nggak kayak kakaknya ya... agak lambat nangkepnya..."

Saya suka merasa bersalah kalau udah begitu. Bahkan Rio pernah bilang:

"Uni', walaupun io nggak sejenius uni', io bakal berusaha biar bisa jadi anak yang dibanggain mama juga."

Ah, Dek... Kamu itu pintar kok. Cuma butuh usaha lebih aja...sedikiiiiit lagi aja. Kamu pasti bisa melebihi uni' malahan. Dan jangan membanding-bandingkan diri sama uni'. Kita berbeda. Kamu punya kelebihan yang uni' nggak punya. Oke? :)

Adik kedua, namanya Bevin. Bevin iniiii mirip banget sama karakter Ishaan. Mukanya, sifatnya, cara melihatnya, kreativitasnya. Mirip banget! Dan di rumah pun dia suka dimarahi karena dianggap nakal. Padahal dia nggak nakal, dia cuma punya keingintahuan yang terlalu besar. Dia cuma terlalu kreatif. Dia cuma terlalu jenius.

Saya perlihatkan film Taare Zameen Par ke mama. Biar ditonton mama. Trus mama nangis. Dan habis itu, mama mengelus kepala dan memeluk Bevin sambil menangis. Alhamdulillah. Mudah-mudahan, habis ini mama akan lebih mengerti lagi sama Bevin. :)

Adik ketiga, namanya Darrel. Sekarang kelas 2 SD. Waktu kelas 1, Darrel gabisa membaca. Dia susaaaah banget belajar huruf. Tapi kalo angka-angka, cepet banget nangkepnya! Hahahhaa.
Mama udah capek ngajarin Darrel membaca. Dia selalu lupa sama huruf-huruf, padahal udah berulang kali diajarin. Mama naik pitam. Ngajarinnya mulai emosi. Trus mama ngomong ke ayah, 

"Yah! Ajarinlah anak ayah nih! Mama udah sebel."

Oke. Gantian sama ayah. Ayah ngajarin, awalnya sabar. Eh lama-lama naik pitam juga. Wedew.
Trus mama marah-marah lagi. Ah, mama ini. Mungkin karna stres, apa emang lagi capek atau gimana, emosinya jadi gampang naik. Darrel nangis, dan gamau lanjut belajar lagi malam itu.

Besoknya, saya ngambil beberapa lembar kertas HVS kosong, terus menyeret Rio sama Bevin ke kamar saya.

"Ngapain, Ni'?"
"Nih. Potong-potong kertas HVS-nya jadi 8 bagian."
"Hah?Buat apah?"
"Udah, kerjain ajaaa..."

Akhirnya Bevin melipat kertas, Rio menggunting kertas. Mereka nurut aja saya suruh, wkwkwk... Aaaah... enaknya jadi kakak tertuaaaa~ Nyahahaha... :p

Kertas yang udah dipotong tadi, mulai saya tulisi. Saya tulisi dengan huruf-huruf, huruf besar dan huruf kecil. Saya membuat huruf-huruf yang gendut, meninggalkan space kosong di bagian dalamnya. Bevin langsung mengerti.

"Oooooh...buat belajarnya Darrel ya Ni?"

:)
Huruf-huruf buatan saya selesai. Darrel sedang bermain di luar rumah, lari-larian bersama anak-anak lainnya. Sepulangnya Darrel bermain, saya panggil adik saya itu.

"Arel, sini! Belajar sama Uni'!"

Muka Darrel langsung asem. Udah membayangkan pasti bakal kena marah lagi. Wkwkwkwk. Tapi muka itu berubah jadi muka heran ketika saya mengeluarkan kertas-kertas bertulisan huruf-huruf, daaaaaan sekotak pensil warna.

"Mewarnai yuk!"

Muka Darrel langsung cerah. Secerah hati saya yang melihat senyumannya. ^_^
"Ayuk!"

Saya menebarkan kertas-kertas di lantai. Saya acak-acak kertas itu, lalu saya suruh Darrel yang duduk di seberang saya untuk mencari huruf yang saya mau. Kalau dia berhasil menemukan huruf itu, dia boleh mewarnai huruf tersebut.

"Coba cari huruuuuuuuuffff... hmmmm... apa yaaaa... huruf b kecil!"

Darrel mengaduk aduk tumpukan kertas itu. Dan menyerahkan huruf "p".

"Ini bukan b... ini p... Sini-sini coba Arel liat. Kalo huruf p itu, kepalanya besar... karna dia p-p-pintar...jadi kepalanya besar...oke?"
"Oke!"

Sengaja saya mengkorelasikan antara kata pintar dan huruf p. Supaya Darrel bisa mengumpamakan huruf p, kata-kata pintar, dan kepala besar.

"Kalo b itu... hmmm... b itu ibu-ibu...jadi gendut...jadi kalo gendut apanya yang besar?"
"Perut..."
"Coba mana, yang perutnya besar?"

Darrel kembali mengaduk-aduk, dan menyerahkan huruf b kecil pada saya sambil tertawa-tawa geli, "Ini ibu gendut!!!"

"Hebaaaaat!!! Kalo gitu, sekarang AYO KITA WARNAAIIIIN!!!", teriak saya bersemangat, seperti orang yang memenangkan olimpiade. Darrel ikut berteriak dan melompat-lompat. Lalu kami mewarnai huruf itu sama-sama.

Selesai mewarnai, saya mengajak Darrel mencari contoh kata-kata yang memakai huruf b. Baju, bola, bendera, batu, bayam, bubur, dan lain-lain... ^_^


Dalam satu hari, saya cuma ngajarin 5 huruf. Karna takutnya kalo sekaligus bakal gampang lupa. Jadi, pelajaran dilanjutkan besoknya. Tapi besoknya saya malah kaget. Pas lagi nyuci piring di dapur, tiba-tiba Darrel datang lari-lari ke arah saya dan berteriak.

"UNI', AYO BELAJAR HURUF LAGI!"

Ah, gilaaaaaaaaaa saya senang bukan kepalang! Hahahhaa... Kegembiraan apalah yang bisa melebihi kegembiraan seorang pengajar ketika mendengar orang yang kamu ajarin justru minta belajar, bukan kita yang suruh belajar... Kyaaaaaaaaaa~ >_<

Dan begitulah seterusnya. Saya mengajari huruf ke Darrel sambil mewarnai selama seminggu. Selesai mewarnai, saya mengajak Darrel untuk menyusun huruf demi huruf untuk membentuk berbagai kata. Mama cuma melihat. Saya melirik-lirik mama sambil menaik-turunkan alis, seolah berkata, "Beuh! Keren kan Uni'...Siapa dulu dong~"

Mama cuma membalas dengan cibiran, membalikkan badan, lalu tersenyum diam-diam. Hahahaha... Ah, mama sok cool ah. :D

0 comments:

Post a Comment

Blog contents © Perempuan Bermata Jumbo 2010. Blogger Theme by Nymphont.