Garfield in a real life

Friday, September 27, 2013

I loooooooove cats!
Beberapa hari lalu ke daerah Tutong, ke rumahnya bang Acai, salah satu pekerja workshopnya kantor. Kesana juga sebenernya dalam rangka nemenin Kapon (senior interior designer di kantor saya) buat ngejemput mobilnya kesana. Eh sesampainya disana, daku berjumpa lah sudah dengan kucingnya bang Acai yang gedeeeeeee banget! Berat pulak! Tapi lucunya juga nggak nahan.

Parahlah. Mirip Garfield banget!
Mau punya jugaaaak!
Uhuhu~

*jeritan gadis pecinta hewan*


A lifetime dream of mine

Wednesday, September 25, 2013


Dari kecil, saya suka banget bermimpi dan berimajinasi. Setiap hari kerjaan saya adalah berimajinasi. Menggambar sambil berimajinasi, main orang-orangan sambil berimajinasi, main petak umpet sambil berimajinasi. Hahaha... Kalo main petak umpet saya selalu sambil berimajinasi bahwa ini masalah hidup dan mati, Jendral! Saya harus menyelamatkan diri dari para pembunuh yang sedang mencari-cari!

Habis mandi, dan ngeliat cermin, saya berimajinasi. Menjadi tokoh-tokoh sinetron kesukaan mama, dan berekspresi macem-macem di depan cermin. Lanjut berjoget india. Lanjut meratap sedih bak cerita bawang merah bawang putih. 

Kebiasaan menatap cermin lalu berimajinasi ini masih jadi kebiasaan saya sampe sekarang, walaupun yang diimajinasikan udah beda. Kalo sekarang, pas liat cermin itu berimajinasinya membayangkan bakal jadi apa saya beberapa tahun lagi. Bakal ada dimana. Bakal jadi apa. Nah si bakal-jadi-apa ini lah yang saya perankan di depan cermin. Hahahha. Ya ampun. Udah gede kamu Cooooor!!! Plis deh... :)))

Trus, sebagai desainer interior kan saya juga pastinya sering bikin layout dan desain rumah tinggal tuh... Nah saya juga selalu berimajinasi. Sambil memperhatikan layoutnya, saya membayangkan saya masuk ke dalam rumah itu. Lewat pintunya, kamarnya, dapurnya...semua langsung kebayang di kepala saya. Dan itupun juga udah jadi kebiasaan saya sejak SMP, karna sejak SMP saya udah rajin mendesain denah rumah di buku kotak-kotak saya. Makanya sering dimarahin mama karna dikira ngelamun sambil belajar. Padahal, bukan ngelamuuun... tapi lagi sibuk di alam imajinasi sambil merhatiin denah yang saya bikin. Wkwkwkwk.

Iya, cita-cita saya adalah jadi arsitek. Sejak SMP. Dan saya bercita-cita mau kuliah di ITB. Arsitektur ITB. Tapi lambat laun, saya mulai beralih ke Desain Interior, karena lama-lama saya sadar, saya bukan ingin membangun dinding-dinding aja. Yang saya imajinasikan selama ini kan bagaimana aktivitas dan perasaan saya di dalam ruangan yang udah saya bikin di buku. Berarti saya lebih tertarik ke hubungan antara manusia dengan ruangan. Feel nya. Dan itu bakal lebih saya dapet ilmunya di jurusan desain interior.

Eeeeh, cari-cari info, ternyata di ITB juga ada jurusan itu. Langsuuung lah tancap gas fokus untuk lolos DI-ITB. Eh beneran lolos! Itu yang namanya kekuatan mimpi! Wkwkwkw. Sampe akhirnya sekarang udah jadi Interior Designer beneran, dan kerja di konsultan interior dan furniture di Brunei Darussalam.

Nah. Mimpi saya sejak kecil udah tercapai. Berarti saya sekarang menjalani hidup tanpa impian?
Weits! Nggak dong!
Sekarang saya punya mimpi baru. Menjadi orang gede bukan berarti gabisa lagi bermimpi kayak anak kecil dong. Hehehe. Sejak di bangku kuliah, saya udah punya mimpi baru. Mau tau? Ayo dengarkan suara hati saya sekarang! Hahaha.


Pas kuliah, saya getol mempelajari seni dan budaya Minangkabau. Saya aktif seaktif-aktifnya, rajin serajin-rajinnya dalam berorganisasi dan berkesenian di Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB. Apalagi saya sukaaaaaaaa banget menari sejak kecil dulu. Walhasil selain ilmu kepemimpinan dan berorganisasi saya yang meningkat tajam, kemampuan menari saya juga meningkat tajam.


Di UKM ini, pada akhir kepengurusan bakal ada List Kemampuan Tari dan disana bakal keliatan berapa jumlah tari yang udah dikuasai dan diakui oleh master tari. Rata-rata teman-teman saya sukses mempelajari tari sebanyak 3-6 tari selama 3 tahun menjadi anggota aktif UKM-ITB. Saya? Saya dengan gemilang dapet pengakuan kemampuan tari sebanyak 9 tari (eh atau 10 ya?) Heuheuheu... Saya getol belajar juga karna pas di awal masuk UKM, saya udah janji bakal mempelajari 3 tari per tahun, berarti total 9 tari. *boleh dong pamer*

Sambil berkesenian di UKM, rasa cinta seni dan budaya Indonesia itu makin muncul. Apalagi saya orangnya cukup idealis. Kalo udah suka sesuatu, bakal cinta mati dan kubela sampai mati *aih lebay!*
Akhirnya saya pengen suatu hari bikin sanggar. Bukan cuma sanggar tari, tapi sanggar seni. Dan budaya. Biar anak2 Indonesia masa depan rajin berkarya dan tetap mau melestarikan dan mencintai seni budaya. Seriusan, seni dan budaya Indonesia itu warisan yang luar biasa lho. Ketimbang sumber daya alam, saya jujur aja lebih menghargai Indonesia dari seni dan budayanya. Soalnya seni dan budaya itu kan buah pemikiran, bukti peradaban dan sejarah masyarakat. Dan itu kereeeeeeeeen!!

Trus, lama-lama saya juga pengen mendirikan SD. Karna saya pikir, masa-masa SD itu justru masa yang paling tepat buat diberi pemikiran yang benar. Ngeliat kurikulum yang kacau sekarang dan cara ngajar guru-guru yang nggak pas, saya takut Indonesia ini ya bakal gini-gini aja. Nggak ada perubahan. Semrawut.

Menurut saya, cara mengajar guru harus dirombak. Khususnya guru SD. Anak SD itu, sekalinya mereka termotivasi untuk bermimpi dan bercita-cita tinggi, beuh! Bakal nempel terus di diri mereka. Karna anak-anak itu masih seperti kertas putih yang kosong. Siap diisi oleh kita. Nah kitanya ini lho...bisa nggak mengisi kertas kosong itu sama warna-warna dan rencana2 indah untuk Indonesia? Kalo yang kita isi itu cuma tinta tinta hitam carut marut, ya ampun... Indonesia pasti bakal suram ke depannya.

Dulu pas kecil saya sering denger, "masa depan Indonesia ada di tangan kalian". Sekarang saya pikir, kata-kata itu bukan berarti cuma di tangan generasi saya. Justru, selain benar2 membangun Indonesia langsung ke pusatnya, saya pikir saya juga harus menduplikasi semangat itu ke generasi berikutnya. Jadi ya sistemnya berkelanjutan. Membangun Indonesia itu gabisa cuma dengan sekali rombak... Harus berkelanjutan, harus ada penerusnya. Harus dijaga dan dipertahankan.

Trus trus, saya kepikiran lagi... Generasi yang cinta seni budaya Indonesia, generasi yang pintar secara keilmuan, keren banget! Etapi ternyata ada satu lagi yang kurang. Mereka juga harus jadi generasi yang paham ilmu agama. Karna dengan modal agama yang kuat, insyaAllah mereka nggak akan mudah jatuh ke jurang kenistaan. Mereka bakal berpikir 1000 kali untuk melakukan dosa.

Contohnya aja, ada orang yang mau menyuap mereka demi mendapatkan suatu hal. Dengan ilmu yang tinggi, jiwa nasionalisme dan agama yang kuat lagi kokoh, saya yakin, mereka nggak akaaan deh tergiur dengan suapan itu. Pribadi ini yang harusnya dibentuk. Bukan cuma satu. Tapi banyak! Karakter kayak gitu yang harus dimiliki pemuda Indonesia! *aih, menggebu2 banget saya*

Nah. Sip. Itu penjelasan mimpi saya belakangan ini. Hahhaha.
Bahkan saya udah menggambar visualisasinya. Belum diwarnain dengan serius sih, hahaha...tapi yang penting intinya udah dapet. Ntar kalo ada waktu dilanjutin ngewarnain lebih serius deh. Cekidot!


Yap!
Itu dia mimpi saya. Membangun sebuah NKRI. Negara Kesatuan - Republik Ilmu. Nyahahaha~
Oh tenang, saya bukannya mau hengkang dari Indonesia...hahaha...saya namain republik ya karna itu tadi, sebagai kebutuhan imajinasi. :p
Tadinya mau disebut "kampung ilmu", tapi kayaknya bakal terasa lebih kuat dan kokoh kalau dinamain "republik".

Saya pengen membangun sebuah area kosong yang luas, menjadi sebuah kompleks berisi tatanan yang saling mendukung. Pengetahuan, agama, dan seni budaya.

Di Minangkabau, ada yang namanya tigo tungku sajarangan. Terdiri dari alim ulama, cendekiawan (cadiak pandai), dan penghulu (pemimpin adat). Tiga elemen inilah yang menjadi tiang utama kehidupan bermasyarakat Minangkabau. Mereka menjadi "tungku" yang menopang panci kehidupan diatasnya. Setelah saya perhatikan mimpi saya, eh ternyata sejalan dengan konsep tigo tungku sajarangan ini. Hahahha...

Ya! Inilah mimpi jangka panjang saya sekarang.
Dan sekarang saya dilema. Kalau terus-terusan kerja di Brunei begini, yang tiap hari cuma ngerjain gambar denah dan desain ruangan punya orang di komputer, kapaaaaaaaaaan saya bisa menebus mimpi ini? Akh...
Harus cari akal.
Harus pulang ke Indonesia.
Harus cari jalannya, harus mulai melangkah.
Uhuhuhu~
Wish me luck ya!

Manajemen Perubahan

Monday, September 2, 2013

Beberapa bulan lalu saya ikut sebuah training. Temanya adalah Manajemen Perubahan. Pemberi materinya adalah Mbak Nurtria Meiradiani, yang berprofesi sebagai Human Resources Director di perusahaan H&M Indonesia. Isi trainingnya cukup menarik dan membuat saya berpikir dua kali kalo lagi menghadapi perubahan.
Perubahan itu pasti terjadi. Pada siapapun, kapanpun, dimanapun. Perubahan itu pasti. Karena hidup itu dinamis, selalu bergerak. Dan kondisi kehidupan tidak akan selalu sama dari waktu ke waktu. Maka untuk menyesuaikan, pasti akan muncul suatu perubahan.

Masalahnya, banyak dari kita yang gabisa me-manage bagaimana caranya kita menghadapi perubahan tersebut. Banyaaaaak banget orang yang ketika dihadapkan dengan suatu perubahan, bakal langsung defense terhadap perubahan tersebut. Dan ternyata itu adalah hal yang wajar. Karena perubahan itu, memang begitulah prosesnya.

Dalam suatu perubahan, ada beberapa fase yang terjadi sampai akhirnya perubahan itu melebur dan diterima. Pada awalnya, perubahan itu akan ditolak. Manusia akan menolak adanya perubahan. Kenapa? Karena perubahan itu butuh pengorbanan. Mengorbankan apa yang sudah dirasakan nyaman pada saat ini, lalu susah payah memulai dan mengusahakan dari awal, susah payah beradaptasi, dan lain-lain. Kadang perubahan juga dirasakan sebagai suatu kerugian untuk kepentingan pribadi.

Lambat laun, ketika tidak ada yang dapat dilakukan untuk menolak perubahan dan nyatanya perubahan itu terus terjadi, yang bisa dilakukan manusia adalah mencoba beradaptasi. Terpaksa. Ya, awalnya terpaksa. Namun lama-kelamaan proses adaptasi itu akan menjadi mudah. Manusia akan terbiasa dengan sistem baru tersebut dan akhirnya perubahan itu akan menjadi sesuatu yang dapat mereka terima. Ketika mereka sudah menerima perubahan itu, barulah mereka mulai menyukai. Barulah mereka mulai menyadari apa hikmah di balik perubahan.

Begitu seterusnya. :)

Saya sendiri adalah orang yang nggak gampang ikut-ikutan. Ketika ada perubahan dan orang-orang protes sana sini, saya cenderung memikirkan nilai di balik perubahan tersebut. Apa untungnya, apa ruginya, dan kenapa perubahan itu terjadi. Ketika saya sudah memahami hal tersebut, pada akhir pemikiran itu saya bakal bisa menyimpulkan; Ya. Biarlah perubahan ini terjadi. Mudah-mudahan hasilnya baik. Hmmm, saya harus menyesuaikan nih. Harus mengubah sistem saya supaya bisa sesuai dengan perubahan tersebut. 

Yah, saya biasanya lebih fokus sama hal positif dari suatu hal ketimbang harus koar-koar protes mengenai hal negatif... wkwkwk... Soalnya saya percaya sama yang namanya law of attraction. Semakin hal buruk ditentang dan dipikirkan, apalagi diprotes sepenuh hati, semakin hal buruk itu terjadi. Kenapa kita nggak mengambil hikmahnya aja, dan fokus pada kebaikan yang ada di dalamnya? Supaya hal-hal baik itu meng-attract hal-hal baik lainnya dan pada akhirnya, ia akan menjadi sesuatu yang baik.

Satu lagi hal yang saya simpulkan, untuk membuat perubahan itu efektif, butuh kerjasama antar individu. Saling bahu membahu, bantu membantu, saling menopang. Karena melakukan perubahan ke arah yang lebih baik itu memang suliiiiiiiiiiiiit sekali. Tapi ya kayak kata pepatah, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. :)

Ayey! Gajian!

Ampun deh, yang namanya waktu itu mengerikan sekali kakaaa...
Rasanya baru kemaren ngurusin visa ke embassy Brunei di Jakarta seorang diri, nyasar2 karna gakenal kota Jakarta. Trus rasanya baru kmaren rasanya excited di pesawat karna pertama kalinya ke Brunei.

Trus sekarang udah nyaris 4 bulan aja disini. Ya ampun...
Alhamdulillah sih...soalnya emang pengen cepet2 pulaaaaaaang ke Indonesiaaaaa... ke Bandung lagiiiiii >_<
Abisan disini sepi pisaaaan... Gila banget lah, jalannya lebar2 udah kayak jalan tol, padahal penduduk Brunei sendiri cuma seuprit...hahhaa...
Btw ini sedikit foto2 yah...Foto Kantor perdana mentri, gedung majlis, dan international conference center nya. foto lain kapan2 diupload lagi deh :)





Disini kehidupannya bisa dibilang beda banget sama Indonesia. Nggak ada sepeda motor disini. Semua orang punya mobil. Mobil juga bukan main murahnya (yg second hand yah, tapi itu juga bagus2 kok). Trus katanya dari bank disini emang gampang banget ngasih pinjeman ke masyarakat, buat beli mobil. Wew~
Tapi karna toh saya gabisa nyetir, Alhamdulillah ga tertarik minjem bank. Wakakak...
Mari berdayakan mobil-mobil kenalan disini aja.

Disini juga barangnya kebanyakan impor. Ya beras, gula, buah, semua deh. Selama disini yah, belum pernah saya nemu yang namanya sawah dan ladang. Ngga ada petani disini. Dan hebatnya, ngga ada yang namanya pengangguran disini. Tiap masyarakatnya kayak ada jaminan gitu kayaknya dari kesultanan buat kerja. Yang ngga kerja, dikasih kerja. Yang miskin, dikasi rumah atau modal usaha. Sultannya rutin mengunjungi masyarakat, terjun langsung buat melihat negaranya dari dekat.
Gila lah. Luar biasa. Pantes makmur gini negaranya.


Lalu lalu ceritanya kemaren gajian. Yiiihaaaa~
Gajian ketiga selama di Brunei ini.

Gaji pertama, abis buat beli HP baru karna BB ga laku disini. Jadi ngga ada yg namanya paket BB atau apalah itu yang bikin BB murah banget dan dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat Indonesia, sampai lapisan pengemis sekalipun.
(Iya, pengemis sekalipun. Saya pernah ketemu pengemis ber-BB di depan BEC Bandung. Jadi gaperlu songong kalo punya BB mah, gaperlu. You're just a standard person.)
Gaji kedua, abis buat uang kuliah adek laki-laki saya yang baru aja lulus di Universitas Andalas jurusan Hukum.
Trus ini gaji ketiga asoy dong? Ga ada keperluan lagi?
Nah. Masalahnya, saya udah kadung janji ke adek saya yg kuliah itu, bahwasanya kalo dia lulus kuliah di Unand itu, saya bakal beliin doi laptop. Nyahahahahahaha mampuslah gueeee.


Oke oke oke. Tarik napas Cor!
Dan jangan lupa hembuskan lagi.
Hahahaa...
Gapapa atuh duitnya abis buat adek. keperluan dan angan-angan pribadi ditahan doloooo ya qaqa.
Wkwkwk

Taare Zameen Par ~ Like Stars on Earth (every child is special)


Taare Zameen Par.
Itulah judul film india (haha, iya! india!) yang selalu saya rekomendasikan untuk ditonton pada siapapun, bahkan untuk orang yang gasuka film india sekalipun.

Kenapa ngotot banget? Karna film ini penting untuk ditonton! Demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater, film ini film wajib tonton.




Taare Zameen Par artinya adalah "like stars on earth". Menceritakan tentang seorang anak bernama Ishaan, berumur 8 tahun. Ishaan sudah beberapa kali tinggal kelas. Dia selalu dimarahi, di rumah, di lingkungan bertetangga, dan di sekolah. Guru-guru di sekolah menyebutnya bodoh. Idiot. Bahkan ayahnya sendiri juga mengatainya begitu.

Ishaan tidak bisa membaca dengan lancar. Menulispun suka terbalik-balik. Bukan hanya terbalik kata-katanya, tapi terbalik huruf-hurufnya. Sampai kadang tulisan Ishaan terlihat seperti tulisan rusia. Keadaan Ishaan sangat bertolak belakang dengan Yohan, sang kakak yang selalu menjadi juara di sekolah.

Dimarahi, dimarahi, dimarahi.
Idiot!
Pemalas!
Nakal!
Bodoh!
Dimarahi, dimarahi, dimarahi.
Itulah menu keseharian Ishaan.

Sampai pada suatu hari ayahnya mengirimkan Ishaan ke sekolah berasrama, sehingga Ishaan harus tinggal jauh dari orang tuanya. Di sekolah yang barupun ternyata tidak ada bedanya. Guru-guru memperlakukan murid dengan cara mencerca, menghukum, memarahi. Jawaban dari murid harus sesuai dengan isi buku. Jika tidak sesuai dengan isi buku, jawaban itu salah. Prinsip para guru adalah membuat anak-anak kejar mengejar menjadi yang paling sempurna nilainya. Life is a race. Yang tertinggal, tidak akan berhasil.

Ishaan semakin depresi. Karna huruf-huruf masih menjadi musuhnya. Buku Ishaan penuh dengan tinta merah dari guru-gurunya. Hari-hari Ishaan dihiasi dengan hukuman demi hukuman. Dan dia pun  tenggelam dalam trauma dan dukanya. Ia trauma terhadap pelajaran. Bahkan, ia tidak mau lagi menggambar, padahal ia sangat cemerlang dalam menggambar.

Sampai akhirnya, pada suatu hari ada seorang guru kesenian yang baru, yang mengajar murid-murid dengan ceria dan menyadari bahwa ternyata Ishaan menderita dyslexia. Dia juga mengerti bahwa manusia diciptakan berbeda-beda. Begitu juga dengan anak-anak. Tiap anak itu spesial. Mereka memiliki pemikiran, cita-cita, kelebihan dan kekurangan. Anak-anak tidak boleh diperlakukan seperti kuda pacu, yang dilecut supaya kencang larinya dan menang dari kuda lainnya. Sama sekali berbeda!

Ah, pokoknya wajib tonton deh ini. Saya aja meraung-raung berurai airmata gara-gara film ini. Sampai sekarang pun selalu saya tonton ulang. Untuk terus mengingatkan saya bahwa jangan sekali-kali saya memperlakukan anak kecil dengan perlakuan seperti itu.

Film itu juga mengingatkan saya pada adik-adik saya di Padang.
Saya punya 4 adik, semuanya laki-laki. Hahahaha. Jadinya saya adalah anak paling cantik kalo di rumah. Fufufufu~
Adik pertama, namanya Rio. Sekarang berkuliah di Universitas Andalas jurusan Ilmu Hukum. Rio ini pintar, tapi kurang cepat. Sampai guru-gurunya (yang dulu adalah guru saya juga) suka bilang ke mama... "Rio kok nggak kayak kakaknya ya... agak lambat nangkepnya..."

Saya suka merasa bersalah kalau udah begitu. Bahkan Rio pernah bilang:

"Uni', walaupun io nggak sejenius uni', io bakal berusaha biar bisa jadi anak yang dibanggain mama juga."

Ah, Dek... Kamu itu pintar kok. Cuma butuh usaha lebih aja...sedikiiiiit lagi aja. Kamu pasti bisa melebihi uni' malahan. Dan jangan membanding-bandingkan diri sama uni'. Kita berbeda. Kamu punya kelebihan yang uni' nggak punya. Oke? :)

Adik kedua, namanya Bevin. Bevin iniiii mirip banget sama karakter Ishaan. Mukanya, sifatnya, cara melihatnya, kreativitasnya. Mirip banget! Dan di rumah pun dia suka dimarahi karena dianggap nakal. Padahal dia nggak nakal, dia cuma punya keingintahuan yang terlalu besar. Dia cuma terlalu kreatif. Dia cuma terlalu jenius.

Saya perlihatkan film Taare Zameen Par ke mama. Biar ditonton mama. Trus mama nangis. Dan habis itu, mama mengelus kepala dan memeluk Bevin sambil menangis. Alhamdulillah. Mudah-mudahan, habis ini mama akan lebih mengerti lagi sama Bevin. :)

Adik ketiga, namanya Darrel. Sekarang kelas 2 SD. Waktu kelas 1, Darrel gabisa membaca. Dia susaaaah banget belajar huruf. Tapi kalo angka-angka, cepet banget nangkepnya! Hahahhaa.
Mama udah capek ngajarin Darrel membaca. Dia selalu lupa sama huruf-huruf, padahal udah berulang kali diajarin. Mama naik pitam. Ngajarinnya mulai emosi. Trus mama ngomong ke ayah, 

"Yah! Ajarinlah anak ayah nih! Mama udah sebel."

Oke. Gantian sama ayah. Ayah ngajarin, awalnya sabar. Eh lama-lama naik pitam juga. Wedew.
Trus mama marah-marah lagi. Ah, mama ini. Mungkin karna stres, apa emang lagi capek atau gimana, emosinya jadi gampang naik. Darrel nangis, dan gamau lanjut belajar lagi malam itu.

Besoknya, saya ngambil beberapa lembar kertas HVS kosong, terus menyeret Rio sama Bevin ke kamar saya.

"Ngapain, Ni'?"
"Nih. Potong-potong kertas HVS-nya jadi 8 bagian."
"Hah?Buat apah?"
"Udah, kerjain ajaaa..."

Akhirnya Bevin melipat kertas, Rio menggunting kertas. Mereka nurut aja saya suruh, wkwkwk... Aaaah... enaknya jadi kakak tertuaaaa~ Nyahahaha... :p

Kertas yang udah dipotong tadi, mulai saya tulisi. Saya tulisi dengan huruf-huruf, huruf besar dan huruf kecil. Saya membuat huruf-huruf yang gendut, meninggalkan space kosong di bagian dalamnya. Bevin langsung mengerti.

"Oooooh...buat belajarnya Darrel ya Ni?"

:)
Huruf-huruf buatan saya selesai. Darrel sedang bermain di luar rumah, lari-larian bersama anak-anak lainnya. Sepulangnya Darrel bermain, saya panggil adik saya itu.

"Arel, sini! Belajar sama Uni'!"

Muka Darrel langsung asem. Udah membayangkan pasti bakal kena marah lagi. Wkwkwkwk. Tapi muka itu berubah jadi muka heran ketika saya mengeluarkan kertas-kertas bertulisan huruf-huruf, daaaaaan sekotak pensil warna.

"Mewarnai yuk!"

Muka Darrel langsung cerah. Secerah hati saya yang melihat senyumannya. ^_^
"Ayuk!"

Saya menebarkan kertas-kertas di lantai. Saya acak-acak kertas itu, lalu saya suruh Darrel yang duduk di seberang saya untuk mencari huruf yang saya mau. Kalau dia berhasil menemukan huruf itu, dia boleh mewarnai huruf tersebut.

"Coba cari huruuuuuuuuffff... hmmmm... apa yaaaa... huruf b kecil!"

Darrel mengaduk aduk tumpukan kertas itu. Dan menyerahkan huruf "p".

"Ini bukan b... ini p... Sini-sini coba Arel liat. Kalo huruf p itu, kepalanya besar... karna dia p-p-pintar...jadi kepalanya besar...oke?"
"Oke!"

Sengaja saya mengkorelasikan antara kata pintar dan huruf p. Supaya Darrel bisa mengumpamakan huruf p, kata-kata pintar, dan kepala besar.

"Kalo b itu... hmmm... b itu ibu-ibu...jadi gendut...jadi kalo gendut apanya yang besar?"
"Perut..."
"Coba mana, yang perutnya besar?"

Darrel kembali mengaduk-aduk, dan menyerahkan huruf b kecil pada saya sambil tertawa-tawa geli, "Ini ibu gendut!!!"

"Hebaaaaat!!! Kalo gitu, sekarang AYO KITA WARNAAIIIIN!!!", teriak saya bersemangat, seperti orang yang memenangkan olimpiade. Darrel ikut berteriak dan melompat-lompat. Lalu kami mewarnai huruf itu sama-sama.

Selesai mewarnai, saya mengajak Darrel mencari contoh kata-kata yang memakai huruf b. Baju, bola, bendera, batu, bayam, bubur, dan lain-lain... ^_^


Dalam satu hari, saya cuma ngajarin 5 huruf. Karna takutnya kalo sekaligus bakal gampang lupa. Jadi, pelajaran dilanjutkan besoknya. Tapi besoknya saya malah kaget. Pas lagi nyuci piring di dapur, tiba-tiba Darrel datang lari-lari ke arah saya dan berteriak.

"UNI', AYO BELAJAR HURUF LAGI!"

Ah, gilaaaaaaaaaa saya senang bukan kepalang! Hahahhaa... Kegembiraan apalah yang bisa melebihi kegembiraan seorang pengajar ketika mendengar orang yang kamu ajarin justru minta belajar, bukan kita yang suruh belajar... Kyaaaaaaaaaa~ >_<

Dan begitulah seterusnya. Saya mengajari huruf ke Darrel sambil mewarnai selama seminggu. Selesai mewarnai, saya mengajak Darrel untuk menyusun huruf demi huruf untuk membentuk berbagai kata. Mama cuma melihat. Saya melirik-lirik mama sambil menaik-turunkan alis, seolah berkata, "Beuh! Keren kan Uni'...Siapa dulu dong~"

Mama cuma membalas dengan cibiran, membalikkan badan, lalu tersenyum diam-diam. Hahahaha... Ah, mama sok cool ah. :D
Blog contents © Perempuan Bermata Jumbo 2010. Blogger Theme by Nymphont.